03 April, 2012

Demensia

Definisi
Demensia adalah Suatu sindrom akibat penyakit/gangguan otak yang biasanya bersifat kronik-progresif, dimana terdapat gangguan fungsi luhur kortikal yang multipel, termasuk : daya ingat, daya pikir, orientasi, daya tangkap, berhitung, kemampuan belajar, berbahasa dan daya nilai. (4)

Klasifikasi
A.  Berdasarkan etiologi :
1.        Dementia pada penyakit alzheimer
2.        Dementia vaskular
3.        Dementia pada penyakit lain :


-          penyakit Pick
-          penyakit Creutzfeldt-Jacob
-          penyakit Huntington
-          penyakit Parkinson
-          penyakit HIV
-          dementia pada penyakit yang dispesifikasi di tempat lain


4.        Dementia tak tergolongkan
B. Berdasarkan onsetnya :
-          demetia presinilis
-          dementia senilis
C. Berdasarkan perkembangannya :
-          dementia reversible
-          dementia irreversible
D. Berdasarkan sifat kesungguhannya :
-          dementia sesungguhnya
-          pseudodementia
E. Berdasarkan letak lesi di otak :
-          dementia kortikal
-          dementia subkortikal



Berdasarkan PPDGJ-III (4) :
-       Demensia pada Penyakit Alzheimer
-       Demensia Vaskular
-       Demensia pada Penyait lain YDK
-       Demensia YDD

Epidemiologi
-          Sekitar ½ dari 1,2 juta orang-orang yang tinggal dalam rumah-rumah perawatan di USA terutama disebabkan oleh dementia
-          Di USA à pada usia > 65 thn : à 5% dementia berat dan 15% ringan
-          Di Eropa Utara : prevalensinya 1,3-6,2% pd usia >65 thn 
-          Penelitian tahun 1990, di USA, pada populasi usia > 80 thn à 20% menderita dementia berat
-          Dari semua pasien dementia di USA didapati : 50-60% dementia type alzheimer’s disease
-          Di Jepang : dementia vaskular & dementia yg bukan alzheimer relatif lebih banyak ditemukan
-          Di Turki :
            - tipe alzheimer : 50%
            - tipe vaskular : 36%
            - tipe karena tumor, parkinson, dan alkoholisme : 12 %
-       Insiden meningkat seiring pertambahan usia (60 ke atas)
-       60-70% tipe Alzheimer, 15-20% tipe Vaskular
-       Progresinya bertahap namun terus-menerus
-       Rata-rata angka harapan hidup hanya 3 tahun setelah awitan gejala. (3)
-       2/3 adalah perempuan jika ada riwayat keluarga, resiko 2-3 kali.

Etiologi
-       Faktor genetik
-       Neuropatologi
-       Neurotransmiter
-       Kausa lain : trauma kepala
-       Taupati Sistem familial multipel dengan Dimensia Presenilis. (3)
-       Semua penyakit yang menyebabkan disfungsi otak : Alzheimer, hidrosephalus, parkinson, AIDS, Hutington, Tumor (brain, breast, lung) : meringioma
-       Fisiologi : Hidrosefalus tekanan normal
-       Kardiovaskular :Infark, stroke, hipertensi
-       Infeksi : multiple sklerosis, TBC, neurosifilis, meningitis
-       Intoksikasi obat : alkohol, digoksin, metildopa
-       Gangguan metabolik (devisiensi B12, hipertiroid, DM). (5)

Gambaran Klinis
-       Dementia menimbulkan penurunan yang cukup besar dalam fungsi intelektual dan biasanya agak mengganggu kegiatan dlm kehidupan sehari-hari seperti : mandi, berpakaian, makan, kebersihan diri, BAB & BAK
-       Defisit ini juga meliputi : daya ingat, daya nilai, pikiran abstrak, dan fungsi luhur lainnya seperti : afasia, apraksia, agnosia, kesukaran konstruksional
-       Juga didapati perubahan kepribadian
-       Individu yang dementia sangat rentan terhadap stresor psikososial dan fisik
Kriteria diagnostik
Berdasarkan PPDGJ-III
1.      Kriteria diagnostik umum
·         Adanya penrunan kemampuan, baik dlm daya ingat, maupun daya pikir seseorg sehingga mengganggu kegiatan sehari-hari
·         Tidak ada ggn kesadaran, kecuali bila bertumpang tindih dengan delirium
·         Gejala dan hendaya tersebut harus sudah nyata untuk setidak-tidaknya 6 bulan
2.      Kriteria diagnostik khusus :
Demensia vaskular
·      Terdapatnya gejala dementia
·      Hendaya fungsi kognitif biasanya tidak merata (mungkin terdapat hilangnya daya ingat, hendaya intelek, dan tanda neurologis fokal). Daya tilik diri (insight) dan daya nilai (judgment) secara relatif tetap baik
·      Suatu onset yang mendadak atau deteriorasi yang bertahap, disertai adanya gejala neurologis fokal , meningkatkan kemungkinan diagnosis dementia vaskuler.

Demensia Alzheimer
·      Terdapatnya gejala dementia
·      Onset yang tersembunyi dengan deteriorasi lambat
·      Tidak adanya bukti klinis, atau temuan dari penyelidikan khusus, yang menyatakan bahwa kondisi mental itu dpt disebabkan oleh penyakit otak atau sistemik lain yang dapat menimbulkan dementia (mis : hipertiroid, hiperkalsemia, dll)
·      Tdk adanya serangan apoplektik mendadak, atau gejala neurologis kerusakan otak fokal seperti : hemiparesis, hilangnya daya sensorik, defek lapangan pandang mata, dll

Berdasarkan DSM-IV-TR :   
Demensia Vaskular :
1.      Munculnya defisit kognitif multiple yang dimanifestasikan baik oleh :
·        Hendaya memori (terganggunya kemampuan mempelajari informasi baru atau mengingat informasi yang sebelumnya)
·        Satu atau lebih gangguan kognitif di bawah ini :
a.       Afasia
b.      Apraksia
c.       Agnosia
d.      Gangguan dalam melakukan fungsi eksekutif
2.      Defisit kognitif pada kriteria A1 dan A2 masing-masing menyebabkan hendaya yang signifikan dalam fungsi sosial dan okupasional serta menggambarkan penurunan tingkat kemampuan berfungsi yang sebelumnya signifikan.
3.      Tanda dan gejala neurologis fokal yang dianggap secara etiologi berkaitan dengan etioloigi tersebut
4.      Defisit tidak terjadi hanya pada saat delirium
Demensia Alzheimer
1.      Munculnya defisit kognitif multiple yang dimanifestasikan baik oleh :
·        Hendaya memori (terganggunya kemampuan mempelajari informasi baru atau mengingat informasi yang sebelumnya)
·        Satu atau lebih gangguan kognitif di bawah ini :
a.       Afasia
b.      Apraksia
c.       Agnosia
d.      Gangguan dalam melakukan fungsi eksekutif
2.      Defisit kognitif pada kriteria A1 dan A2 masing-masing menyebabkan hendaya yang signifikan dalam fungsi sosial dan okupasional serta menggambarkan penurunan tingkat kemampuan berfungsi yang sebelumnya signifikan.
3.      Perjalanan penyakit ditandai oleh awitan yang bertahap dan penurunan kognitif yang kontinyu.
4.      Defisit kognitif pada kriteria A1 dan A2 tidak disebabkan oleh salah satu :
·        Penyakit sistem saraf pusat lain yang menyebabkan defisit progresif memori dan kognisi
·        Penyakit sistemik yang diketahui menyebabkan demensia
·        Penyakit terinduksi obat
5.      Defisit tidak terjadi hanya pada saat delirium
6.      Gangguan ini tidak lebih mungkin disebabkan oleh gangguan lain pada Aksis I.

Diagnosis banding
  1. Proses normal usia lanjut
  2. Delirium
  3. Skizofrenia
  4. Episode depresi berat

Perjalanan penyakit
-          Umumnya secara bertahap irreversible
-          Namun hal ini tergantung juga pada etiologinya. Bila oleh karena  hipoksia otak atau ensefalitis atau trauma à maka timbulnya mendadak dan menetap

Pemeriksaan penunjang
1.      MRI à lihat pembuluh darah untuk membedakan demensia alzheimer atau vaskular
a.       Pada alzheimer            :
b.      Adanya atropi difuse dengan sulkus korteks yang mendatar
c.       Ventrikel serebri yang melebar
d.      Pada Vaskular :
e.       Oklusi pembuluh darah oleh plak arterosklerotik / tromboemboli
2.      SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography)
a.       Untuk melihat metabolisme otak untuk membedakan tipe-tipe demensia.
3.      CT-scan
Terapi
-          Beberapa kasus dementia bisa diobati yang mana hal ini tergantung pada pengobatan terhadap penyakit yang mendasarinya
-          Mempertahankan kesehatan fisik pasien, adanya suatu lingkungan yang menyokong, dan pengobatan psikofarmakologik yang simtomatik adalah diindikasikan pada kebanyakan tipe dementia
-          Psikososial :
-       Berikan edukasi pada pasien secara gamblang tentang sifat dan perjalan penyakit yang mereka alami
-       Membantu pasien mengatasi fungsi ego yang defektif seperti mencatat problem orientasi dalam kalender, membuat jadwal aktifitas, membuat jadwal untuk problem memori.
-          Pendekatan Pada Pasien Demensia :
-       Perawatan medik
-       Sokongan emosional pada pasien dan keluarganya
-       Obat-obatan untuk gejala-gejala spesifik (BPSD) :
·         Antipsikotik                : Tipikal (CTZ 150-600mg/hari),
  Atipikal (Clozapine 1-2x 25-100mg/hari)
·         Mood Stabilizer           : Carbamazepine 2-3x 400-600mg/hari
·         Ansiolitik                     : Diazepam 2-3x 2-5mg/ hari
·         Antidepresan               : Amitriptyline 75-150mg/hari
-   Antidemensia :
·         Gol. Notropika            : Piripinol 1x100mg – 3x200mg,
  Piracetame 1x400mg – 3x1200mg,
·         Ca. Antagonis                         : Nimudipine 1-3x 30 mg,
  Cyticoline 1-2x 100-300mg,
·         Penghambat kolineserase (demensia alzheimer) :
o  Donipezile (Aricept)  5mg 1x/hari
o  Rivastigmane (exelon) 6-12mg 2x/hari,
o  Galantamine (Reminyl) 1-3x 5mg

BPSD (Behavior and Pshycological Syndrome of Dementia)
Merupakan perubahan perilaku dan berbagai aspek psikologis dari pasien demensia yang merupakan problem tersendiri bagi keluarga. Tidak jarang semua ini membuat kacau dan membuat stres orang yang merawat. Gangguan perilaku yang terjdi seperti agitasi, depresi, delusi, paranoid, apatis, halusinasi, dan agresifitas verbal atau fisik.  Oleh kerena itu dibutuhkan strategi untuk mengatasi hal tersebut, meliputi : pengembangan program aktivitas dan pemberian obat-obat.

Prognosis
Tergantung jenis penyakit dan kondisi medik yang mendasari. Jenis alzheimer, progosis kurang baik. Untuk demensia oleh karena infeksi, defisiensi vitamin, hidrosefalus tekanan normal, vaskularisasi dan gangguan metabolik mungkin dapat membaik.






DAFTAR PUSTAKA

1                    Guyton, Arthur C & John E. Hall. Korteks Serebri; Fungsi Intelektual Otak; dan Proses Belajar dan Mengingat dalam Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta 1997 : EGC. Hal. 909-926

2                    Sadock B, Sadock V A. Kaplan & Sadock, Demensia dalam Buku Ajar Psikiatri Klinis, Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2010. Hal. 57-66

3                    Maslim, Rusdi. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Editor : Maslim Rusdi. Edisi : III. Jakarta 2003. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya. Hal : 48 – 49

4                    Demensia dalam Buku Ajar Psikiatri. Editor : Sylvia D. Elvira. Jakarta 2010. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal : 494-504

5                    Maslim, Rusdi Spkj. 2007. Panduan Praktis: Pengguanaan Klinis Obat Psikotropik, Edisi Ketiga. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya. Jakarta.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar